in

Mbah Arjo Manusia Tertua di Indonesia, 17 Anaknya Sudah Meninggal, Begini Caranya Bertahan Hidup

Yakni, Desa Gandusari dan Gandungan.

Setelah melalui medan yang sulit sepanjang 7 km, itu baru sampai ke tempat mbah Arjo.

Tempat mbah Arjo itu lebih dikenal dengan Candi Wringin Branjang karena ada candi yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Bahkan, candi yang bangunannya mirip Candi Penataran itu disebut-disebut, yang menemukan pertama kali adalah mbah Arjo tahun 1990.

Saat itu, mbah Arjo baru sebulan menghuni lokasi itu, dan menemukan bangunan, yang terpendam tanah pegunungan.

Ditemui Minggu (14/1) pukul 09.00 WIB, ia sedang duduk di dalam rumahnya. Rumah mbah Arjo, sangat tak layak karena lebih mirip gubuk, dengan ukuran 3 x 4 meter.

Dindingnya berasal dari bambu (gedek), namun sebagian belum dianyam dan cukup dipaku. Atapnya terbuat dari alang-alang bercampur jerami.

“Sejak saya tinggal di sini (1990-an), ya ini rumah saya. Ini saya tempati dengan anak perempuan saya,” tutur Mbah Arjo, yang bicaranya masih lancar namun mengaku sudah setahun agak susah jalan.

Sejak tak bisa jalan itu, ia tak bisa beraktivitas apapun.

Bahkan, mulai berak, atau kencing, itu ia lakukan di atas tempat tidurnya, yang terbuat dari bambu, dengan tikar pandan, yang kondisinya sudah kusam.

Meski hidup di tengah hutan, namun ia mengaku tak kesulitan air bersih atau kebutuhan makan lainnya.

Sebab, di dekat tempat tinggalnya, ada kali, yang airnya cukup jernih.

Untuk makanannya, ia mengandalkan sayur yang ditanam sendiri, seperti daun singkong, dan bayam.

Sementara, berasnya, ia mengaku mendapat jatah beras raskin.

“Kalau nggak dapat jatah beras, ya saya sudah biasa cukup minum air putih saja,” paparnya.

Ditanya usianya berapa? Mbah Arjo mengaku sudah 200 tahun.

Soal tahun kelahirannya, ia mengaku lupa dan hanya ingat harinya.

Yakni Selasa Kliwon (pada Subuh). Ia kelahiran Desa Gadungan, yang berjarak sekitar 8 Kilometer dari tempatnya sekarang ini.

“Kalau dikait-kaitkan dengan peristiwa jaman dulu soal masa kecil saya, ya saya sudah lupa. Namun, ketika jaman penjajah Jepang, saya sudah beristri yang keenam kali. Sebab, kelima istri saya itu meninggal dunia, sehingga saya menikah lagi, dan dapat istri orang Ponorogo, namanya Suminem. Ia meninggal dunia ketika Indonesia Merdeka,” paparnya.

Sebanyak enam kali menikah itu, ia mengaku dikaruniai 18 anak.

Namun, 17 anaknya sudah meninggal dunia, dan tinggal satu, Ginem, yang hidup bersamanya.

Ia menuturkan, dari istri pertamanya, Sumini, warga Desa Pehpulo, Kecamatan Wates (Kab Blitar), ia punya anak satu, namun sudah lama meninggal.

Istri keduanya, Tuminem, asal Desa Semen, Kecamatan Gandusari, punya anak empat, juga sudah meninggal semua.

Dengan istri ketiga, Paijem, asal Desa Ngambak, Gandusari, punya anak empat, juga sudah meninggal. Istri keempat, Tumila, asal Pacitan, punya anak empat, juga sudah meninggal semua.

Untuk istrinya yang kelima, Tukinem, asal Ponorogo, tak dikaruniai anak, baru dari istrinya yang ke enam, Suminem, asal Ponorogo, dikaruniai empat anak.

Namun, ketiganya sudah meninggal dan tinggal Ginem, yang kini berusia 53 tahun. Hanya saja, ia saat ini mengalami keterbelakangan mental.

Widodo, Kades Gadungan, menuturkan, sebelum tinggal di komplek Candi Wringi Branjang, mbah Arjo itu warga desanya. Namun, sejak menemukan candi itu, ia ingin tinggal di situ, dengan mendirikan gubuk.

“Kalau data di kependudukan desa kami, mbah Arjo itu tercatat kelahiran Desa Gadungan, pada 19 Januari 1825. Kalau data pendukungnya, ya nggak ada.

Cuma, kakek saya, mbah Mawiro Pradio, yang kelahiran 1918 saja, memangil mbah arjo itu kakek.

Artikel belum selsai Lanjut baca ke Halaman berikutnya…

What do you think?

-60 points
Upvote Downvote

Total votes: 160

Upvotes: 50

Upvotes percentage: 31.250000%

Downvotes: 110

Downvotes percentage: 68.750000%

Foto Jokowi Jadi Makmum Shalat di Afghanistan Jadi Viral, Ini Penjelasan Pihak Istana. Jangan Kaget Ya!

Ampun Dah! Gini Nih 20 Kelakukan Turis ‘Nggak Punya Malu’ Saat Berpose dengan Patung, Nomor 7 Jorok Banget