• in

    Berjuang Jadi Kuli Demi “Calon Istri” Kuliah. Pria Ini Ditinggal Nikah Dengan Pria Kaya, Tak Disangka 3 Tahun Kemudian..

    Sungguh sedih apa yang menimpa pria ini. Ia sudah berkorban jiwa dan raga demi pacarnya, malah balasan ini yang ia terima.

    Meskipun ketika kekasihnya berkhianat, balasan telak ini tak terduga terjadi.

    Begini kisahnya:

    Namanya Chen Hong, ketua kelas saya. Dia cantik, prestasi di sekolah sangat bagus.

    Nada bicaranya halus dan lembut. Di dalam kelas kami duduk semeja.

    Karena kegigihanku mengejarnya, akhirnya dia bersedia menjadi pacarku.

    Setelah mengawali cinta yang naif, Chen Hong dengan tegas mengatakan kepadaku agar jangan sepanjang hari mencarinya, karena masih harus belajar.

    Kita perlu saling mendukung dan membangkitkan semangat masing-masing, berusaha lulus dengan sebaik mungkin dan bisa diterima di universitas bergengsi.

    Berbekal dengan tekad yang sama, kami pun berhasil melewatinya dengan hasil ujian yang manis.

    Sayangnya, saya hanya diterima di akademi, sedangkan Chen Hong bisa masuk di universitas bergengsi.

    Tapi kondisi ekonomi keluarganya tidak terlalu bagus, ditambah lagi dengan orangtuanya yang lebih mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan.

    Orangtuanya tidak bersedia membiayai kuliahnya, menyuruhnya tidak usah kuliah, langsung cari kerja saja.

    Melihatnya selalu murung sepanjang hari, aku pun bilang kepadanya.

    “Kamu kuliah saja, kan masih ada aku, aku juga tidak mau melanjutkan di akademi, jadi, aku akan cari kerja dan membiayai kuliahmu.”

     

    Awalnya dia menolak, karena aku tetap bersikeras menyuruhnya kuliah, akhirnya ia pun kuliah di universitas bergengsi itu.

    Sementara aku pun mengawali karier hidupku dengan bekerja di sebuah pabrik.

    Demi membiayai kuliahnya, setiap bulan aku menyisakan uang untuk biaya hidupku sehari-hari, selebihnya aku serahkan kepadanya.

     

    Singkat cerita, setelah empat tahun kemudian, pacarku pun menyelesaikan kuliahnya.

    Selama empat tahun itu, karena ingin berhemat.

    Aku pun jarang menemuinya. Kami bertemu pada saat hari raya nasional, sehari-hari kami hanya mengadakan kontak via telepon.

    Tak lama setelah lulus dia akhirnya mendapat pekerjaan.

    Suatu hari, aku ingin memberinya sebuah kejutan, lalu aku pun menunggunya di depan gerbang kantornya, dan saat akan meneleponnya.

    Aku melihatnya berjalan keluar bersama denga rekan kerjanya, dan dia tampak terkejut ketika melihatku.

    Melihat itu, rekan sekantornya bertanya siapa pria itu, “Oh, dia kakak sepupu saya di kampung,” katanya merespon pertanyaan rekannya.

    Dadaku serasa sesak mendengar perpakataan itu, namun, dia mencoba menjelaskan kepada saya bahwa aturan perusahaan melarang karyawannya pacaran.

    Semuanya akan normal kembali setelah nanti dia naik jabatan. Dan aku percaya saja dengan penjelasannya

    Tak lama kemudian, aku bilang mau menikah, tapi dia meyakinkanku dengan alasan kariernya baru menanjak.

    Kami memang pacaran jarak jauh, terpisah antar dua daerah.

    Sampai suatu hari, ketika kita bertemu dia bilang bosan dengan pacaran jarak jauh, dan bilang akan menikah dengan seseorang.

    Bukan main gembiranya aku mendengarnya, aku pikir akhirnya dia bersedia juga menikah denganku.

    Tapi tak disangka, dia bilang sudah tidak mencintaiku lagi, dia ingin menikah dengan pria lain. Sesaat aku terhenyak dan nyaris tak percaya mendengar apa yang dikatakan, namun, tanpa menoleh lagi dia pun pergi meninggalkan aku.

    Temanku bilang, ada seorang pria tampan mengendarai mobil mewah sambil membawa kado bertandang ke rumahnya untuk tunangan.

    Aku tidak rela, dan ke rumahnya, orangtuanya hanya tahu ada seseorang yang baik hati yang selalu membantunya, tapi tidak pernah tahu sosok orang baik hati ini adalah aku.

    Lalu dengan tenang aku bilang aku adalah teman sekolahnya. Ingin sekali menghadiri pernikahannya, mengucapkan selamat berbahagia dalam resepsi pernikahannya nanti, karena alasan sebagai teman sekolah inilah, aku pun mendapatkan waktu dan tempat pernikahannya.

    Pada hari pernikahannya, aku melihatnya turun dari mobil pernikahan, ditanganku aku membawa sebuah buku catatan tentang biaya yang kukeluarkan selama bertahun-tahun untuk membiayai kuliah dan hidupnya sehari-hari ketika itu, dan sekarang aku ingin menagihnya.

    Dia tampak panik dan bingung sekaligus malu setelah melihatku, melihat suasana itu, mempelai pria pun bertanya kepadanya, tapi dia hanya diam membisu.

    Kemudian, ayahnya si mempelai pria menarikku menjauh dari sana.

    Lalu memberikan uang kepadaku dan menyuruhku segera pergi, atau dia akan mengambil tindakan kalau aku tak mau pergi.

    Aku pun pergi setelah menerima uang itu, meski pun sakit hati ini, tapi aku sadar semua itu sudah berlalu, dan aku merasa tidak pantas bersedih hati hanya untuk wanita seperti itu.

    Hingga akhirnya dengan uang itu aku buat modal usaha.

    5 Tahun kemudian usahaku berhasil begitu pesat dan kini aku membuat beberapa usaha di kota.

    Hidupku berubah 180 derajat, akupun melanjutkan kuliah dan aku bersyukur aku menemukan wanita yang begitu cantik dan menerima ku.

    Suatu hari saat menuju kantor aku melihat seorang wanita yang kukenali, aku minta sopir untuk berhenti karena aku melihat Chen mantan ku dulu.

    Ia berjalan seperti kebingungan, menjinjing tas seperti menunggu angkutan umum.  Memberanikan diri aku mendatanginya dan bertanya ada apa. Ia langsung pangling melihat perubahannku.

    Dia menangis dan menceritakan jika hidupnya tak bahagia, karena suaminya pemarah dan kini ia pergi karena dicerai.

    Melihat itu aku kasihan dan mengantarrnya kedesa tempat kedua orang tuanya. Dia sempat meminta maaf dan mengaku menyesal, tapi sayang sekarang aku sudah ada wanita lain yang begitu baik padaku.

    Orang yang dapat bekerja keras akan menjadi Seseorang yang luar biasa di kemudian hari.

    Menipu orang adalah sebuah bencana, mengampuni orang adalah sebuah kebahagiaan.

    Kebaikan maupun kejahatan,jika waktunya tiba pasti ada balasan Karmanya.

    Perjalanan yang jauh dapat membuktikan Kekuatan seekor Kuda, Waktu akan dapat membuktikan hati seseorang.

    Kebaikan tidak boleh dihilangkan, Kejahatan tidak boleh dikembangkan. (tribun)

  • in

    Pria Ini Tampar Keras Suami-suami yang Memposisikan Istrinya seperti Pembantu, Curhatannya Viral!

    Media sosial tengah diramaikan dengan curahan hati seorang pengguna akun Facebook bernama Arif Rahutomo.

    Melalui akun Facebook-nya tersebut, ia mengisahkan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukan oleh sang istri pada Selasa (14/11/2017).

    Dalam penjabarannya tersebut, menurutnya lumrah bila seorang suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh sang istri.

    Istri bukan pembatu via:http://ayo-bagikan.blogspot.com

    Terlebih saat istri sedang capek atau malas dan semua pekerjaan rumah menjadi terbengkalai.

    Menurutnya, sudah menjadi tugas suami untuk membantu istri meringankan pekerjaan rumahnya.

    Meski tidak bisa melakukan sebaik yang dikerjakan istri, masih banyak jasa-jasa di luar sana yang akan membantu.

    Seperti menggunakan jasa laundry, membeli makanan di warung apabila istri sedang malas masak.

    Karena menurutnya, istri bukanlah pembantu.

    Terlebih lagi, saat suami malas, mengapa harus menuntut istri yang juga memiliki batas kekuatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sehari-haro.

    Akun Facebook Arif Rahutomo pun mempertanyakan suami-suami yang masih memperlakukan istrinya seperti pembantu.

    Baginya, pria yang masih seperti itu adalah pria kuno.

    seperti ini statusnya

    “Kalau istri saya lagi capek atau lagi males, saya tidak menuntut apa-apa.

    Piring berantakan, cucian berantakan, rumah amburadul, kami biarkan saja.

    Kami cuman tidur-tiduran, atau dolan-dolan, atau masing-masing sibuk dengan kerjaan di laptop.

    Lagi males masak? Ya beli aja di warung atau order gofood.

    Kalau piring sih, saya yang mencuci, setrikaan, serahin aja ke jasa laundry.

    Wah, tidak rapi donk? Biarin ah suka-suka.

    Kok bisa? Bagi saya, istri bukan pembantu.

    Kalau saya sendiri males, ngapain nuntut orang lain rajin beberes rumah?
    Kamu masih memposisikan istrimu kayak pembantu? Kamu pria kuno
    *nggleweh_awan” tulis akun Facebook Arif Rahutomo.

    Sontak saja kisahnya ini langsung mendapatkan tanggapan yang beragam dari para netizen.

    Galih Dissidents: “Saya juga seperti itu masalah pekerjaan rumah kalau mau ya dikerjakan kalau gak mau ya tinggal nyuruh orang.”

    Gob Leen: “Ga semua orang mau menghargai istrinya seperti yang bikin status ini, apalagi kalo istri tsb bukan hasil pilihannya sendiri…#ehhh”

    Hawa Putri: “Seandainya saja semua suami berfikir kyk njenengan….jasa londry…tukang sayur pasti akan senang”

    Berdasarkan pantauan tim TribunWow.com hingga kini, Rabu (15/11/2017) pukul 15.35 WIB, unggahan ini sudah dibagikan lebih dari 4 ribu kali dan dikomentari sebanyak 300 lebih netizen (tribun)

  • in

    5 Fakta Menarik Jemput Paksa Setya Novanto: Mulai Fahri Hamzah Sebut Gila Sampai Beda Jokowi-JK

    Drama jemput paksa Ketua DPR Setya Novanto sampai 5 jam di kediamannya pada Rabu (15/11/2017) malam hingga Kamis dini hari benar-benar menyedot perhatian masyarakat.

    Sederet TV swasta menayangkan langsung drama penjemputan.

    Jajaran petinggi KPK bersiaga penuh di markasnya.

    Di Twitter heboh ribuan orang terus memantau perkembangan detik demi detik hasil penjemputan paksa sang Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

    Berikut TribunStyle.com himpun 5 fakta paling menarik drama penjemputan Setnov yang dihimpun dari berbagai sumber:

    Belum Berhasil Tangkap Setnov, Tapi Bisa Amankan Dokumen Penting

    Hingga drama 5 jam penjemputan Setya Novanto, yang bersangkutan tiada di rumah.

    Tapi dokumen-dokumen penting berhasil disita KPK.

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) akhirnya keluar dari rumah Ketua DPR Setya Novanto sekitar pukul 02.43 WIB.

    Mereka keluar setelah lima jam berada di kediaman Novanto di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Kesepuluh penyidik keluar dengan membawa tiga tas jinjing, satu koper biru, satu koper hitam, dan satu alat elektronik yang belum diketahui fungsinya.

    Saat ditanya mengenai aktivitas di dalam, mereka semua enggan menjawab dan terus berjalan menuju mobil masing-masing. Mereka pun enggan menanggapi saat ditanya wartawan ihwal barang yang dibawa di dalam tas dan koper.

    Mereka meninggalkan kediaman Novanto dengan menggunakan sepuluh mobil Toyota Innova.

    Rabu malam (15/11/2017), KPK menyambangi rumah Ketua DPR Setya Novanto, mereka tiba di kediaman Novanto pukul 21.40 WIB.

    Petugas polisi tampak berjaga-jaga di depan pintu masuk rumah Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Seharusnya hari ini, Rabu (15/11), Novanto diperiksa di KPK namun tidak datang. Dia memilih berada di gedung DPR untuk mengikuti rapat Paripurna.

    Seperti diketahui, KPK menetapkan kembali Novanto sebagai tersangka pada Jumat (10/11/2017).

    Novanto sebelumnya lolos dari status tersangka dalam penetapan sebelumnya setelah memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

    Dalam kasus ini, Novanto bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

    Adapun sejumlah pihak itu antara lain Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, dan dua mantan Pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto.

    Novanto juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Akibat perbuatannya bersama sejumlah pihak tersebut negara diduga dirugikan Rp 2,3 triliun pada proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

    Awalnya Tidak Dibolehkan Masuk Setnov 

    Petugas KPK memasuki kediaman Ketua DPR Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (16/11/2017). Sejumlah penyidik KPK mendatangi kediaman Setya Novanto setelah dirinya mangkir dari pemeriksaan sebagai tersangka kasus KTP Elektronik.  (Tribunnews.com/ Irwan Rismawan)
    Petugas KPK memasuki kediaman Ketua DPR Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (16/11/2017). Sejumlah penyidik KPK mendatangi kediaman Setya Novanto setelah dirinya mangkir dari pemeriksaan sebagai tersangka kasus KTP Elektronik. (Tribunnews.com/ Irwan Rismawan) ()

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) akhirnya mendatangi kediaman Ketua DPR Setya Novanto, di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2017) malam.

    Mereka tiba pukul 21.40 WIB. Ketika tiba di kediaman Novanto, para penyidik KPK tak langsung diizinkan masuk.

    Para penyidik KPK menunggu di depan kediaman Novanto untuk menunggu Novanto maupun kuasa hukumnya.

    Pukul 21.55 WIB, kuasa hukum Novanto, Fredrich Yunadi, keluar dari rumah kliennya dan menuju mobilnya.

    Ia terlihat mengambil dokumen, kemudian masuk kembali ke rumah Novanto. Namun, Fredrich enggan menjawab saat ditanya dokumen apa yang dibawanya.

    Pada hari ini, KPK melakukan pemanggilan pertama Novanto sebagai tersangka kasus e-KTP.

    Namun, yang bersangkutan tak dapat memenuhi panggilan KPK dengan sejumlah alasan, salah satunya tengah mengajukan uji materi UU KPK.

    Sebelumnya, Novanto telah tiga kali mangkir dari pemanggilan KPK sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo.

    Sejauh ini, belum ada keterangan dari KPK soal tujuan kedatangan penyidiknya ke kediaman Ketua Umum Partai Golkar itu.

    Trending Tagar “TangkapNovanto” di Twitter

    Poster Setya Novanto
    Poster Setya Novanto ()

    Tanda pagar atau tagar “TangkapNovanto” menjadi trending topic pada media sosial Twitter, Kamis (15/11/2017) malam.

    Hingga Pukul 23.42 WIB, tagar tersebut masih berada pada posisi teratas.

    Hal ini menyusul sejumlah Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang pada Kamis malam mendatangi kediaman Setya Novantodi Jalan Wijaya XIII.

    Adapun Ketua DPR RI itu saat ini berstatus tersangka pada kasus korupsi proyek e-KTP.

    Beberapa warganet meminta agar KPK bisa segera menangkap Novanto.

    “Semoga #TangkapNovanto benar-benar terjadi dan kemudian segera tercipta proses hukum yang seadil-adilnya. Jika benar, ini satu pertanda bahwa KPK BERANI MEWUJUDKAN KEADILAN!” tulis pemilik akun @jolayjali.

    “Papa dimana kau berada? Ku harap menyerahlah!!” tulis pemilik akun @zidnyfahmy_90.

    Warganet lainnya mengungkapkan antusiasmenya menyaksikan siaran langsung peristiwa tersebut di televisi atau lewat media lainnya.

    “Tadinya mau tidur eh baca berita SN dijemput paksa setelah beberapa kali mangkir, jadi melek deh depan TV,” kata pemilik akun @salendra18.

    Seperti diberitakan, penyidik KPK mendatangi kediaman Novanto di kawasan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Pada hari Rabu, KPK melakukan pemanggilan pertama Novanto sebagai tersangka kasus e-KTP.

    Namun, yang bersangkutan tak dapat memenuhi panggilan KPK dengan sejumlah alasan, salah satunya tengah mengajukan uji materi UU KPK.

    Sebelumnya, Novanto telah tiga kali mangkir dari pemanggilan KPK sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo.

    Komisi Pemberantasan Korupsi pun mengimbau Ketua DPR RI Setya Novanto untuk menyerahkan diri.

    “Secara persuasif kami himbau SN dapat menyerahkan diri,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, saat dikonfirmasi, Rabu (15/11/2017).

    Rabu Malam tim KPK mendatangi kediaman Novanto di jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Febri mengatakan, tim mendatangi kediaman Novanto karena yang bersangkutan beberapa kali tidak menghadiri pemeriksaan KPK.

    “KPK mendatangi rumah SN karena sejumlah panggilan sudah dilakukan sebelumnya namun yang bersangkutan tidak menghadiri,” ujar Febri.

    Ketua Umum Partai Golkar itu kembali mengutarakan berbagai alasan ketidakhadiran di KPK melalui surat.

    Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, penyidik kali ini menerima surat keterangan ketidakhadiran yang dikirimkan pengacara Setya Novanto.

    “Surat dari pengacara,” ujar Febri saat dikonfirmasi.

    Dalam surat tersebut, pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, mengatakan, ketidakhadiran kliennya lantaran pihaknya sedang mengajukan uji materi di Mahkamah Konstitusi terhadap Undang-Undang KPK.

    Novanto sebelumnya juga tak menghadiri panggilan pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK.

    Namun, sebelumnya ‘surat sakti’ ketidakhadiran dibuat melalui Sekretariat Jenderal DPR.

    Dalam surat yang menjadi senjata Novanto menghindari penyidikKPK, dia beralasan bahwa KPK harus mengantongi izin dari Presiden Joko Widodo untuk dapat memeriksa dirinya.

    Alasan serupa juga digunakan Novanto pada pemanggilan sebelumnya.

    Novanto dalam suratnya ke KPK menggunakan aturan mengenai Pasal 20A Huruf (3) UUD 1945 sebagai alasan mangkir.

    Pasal itu mengatur hak imunitas anggota DPR.

    Selain itu, Novanto juga beralasan dengan menggunakan Pasal 80 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 mengenai Hak Anggota Dewan Huruf (h) terkait imunitas. Pasal itu dijadikan alasan mangkir dari panggilan.

    Pada September 2017, Novanto juga dipanggil menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Gedung KPK.

    Namun, pada pagi hari, istri Novanto mengirimkan surat berisi keterangan bahwa Ketua Umum Partai Golkar itu sedang sakit dan tidak dapat menghadiri panggilan penyidik KPK.

    Pada hari yang sama dengan jadwal pemeriksaan, Novanto menjalani perawatan di rumah sakit.

    Ia bahkan menjalani operasi di Rumah Sakit Premier Jatinegara.

    Novanto sebelumnya lolos dari status tersangka dalam penetapan sebelumnya, setelah memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

    Dalam kasus ini, Novanto bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

    Adapun sejumlah pihak itu antara lain Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, dua mantan Pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto.

    Novanto juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar.

    Diduga akibat perbuatannya bersama sejumlah pihak tersebut, negara dirugikan Rp 2,3 triliun pada proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

    Pasal yang disangkakan terhadap Novanto yakni Pasal 2 ayat 1 Subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

    Fahri Hamzah Tak Percaya Jemput Paksa dan Sebut Gila 

    Fahri Hamzah
    Fahri Hamzah ()

    Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah terkejut dengan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi yang diduga berupaya menjemput paksa Ketua DPR Setya Novanto.

    “Kalau ada yang berani jemput paksa Setya Novanto, itu pasti perintah datang dari orang kuat di negara ini, sehingga aparat kepolisian khususnya, mau saja ikut-ikutan merusak lembaga negara,” kata Fahri, Rabu (15/11/2017).

    Fahri mengaku sudah mendengar rumor terkait upaya penjemputan paksa Setya Novanto yang dilakukan malam ini. Namun, ia sempat tidak percaya dengan rumor tersebut.

    “Saya tidak percaya bahwa kita semua sudah gila,” kata Fahri.

    Menurut Fahri, keterlibatan KPK dalam gerakan politik menarget Setya novanto akan menghancurkan seluruh bangunan negara hukum di Indonesia.

    “Presiden Jokowi harus bertanggung jawab apabila hal itu terjadi,” kata dia.

    Setya Novanto sebelumnya sudah 3 kali mangkir dari panggilan KPK sebagai saksi kasus E-KTP. Lalu pada Rabu hari ini, Novanto yang diperiksa sebagai tersangka juga mangkir.

    Akhirnya pada Rabu malam ini, sejumlah penyidik KPK mendatangi rumah Ketua DPR itu.

    Selain itu, berdasarkan pantauan Kompas.com, sejumlah petugas kepolisian juga terlihat berjaga. Bahkan, ada aparat kepolisian yang membawa senapan laras panjang yang berjaga.

    Lebih Tegas JK DIbanding Jokowi Terkait Setnov

    Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla  (Tribunnews.com/ Dany Permana)
    Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla (Tribunnews.com/ Dany Permana) ()

    Aktivis Indonesia Corruption Watch Adnan Topan Husodo menilai Presiden Joko Widodo belum menunjukkan ketegasan dalam agenda pemberantasan korupsi, khususnya terkait kasus korupsi e-KTP yang menjerat Ketua DPR Setya Novanto. Bahkan ketegasan Jokowi dinilai kalah dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

    “Yang sebenarnya lebih tegas itu kan Pak JK dalam kasus (Setya Novanto) ini,” kata Adnan di Jakarta, Rabu (15/11/2017).

    Adnan mengatakan, sejak awal Novanto sudah jelas-jelas menjadikan Jokowi sebagai tameng dalam menghadapi kasus E-KTP ini. Misalnya, Novanto menolak diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi sebelum lembaga antirasuah itu mengantongi izin Presiden.

    Namun, Adnan menyesalkan pernyataan Jokowi yang tidak tegas menyikapi manuver Novanto ini.

    Jokowi justru hanya menyerahkan segala proses hukum tersebut kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Harusnya, lanjut Adnan, Jokowi bisa menyatakan dengan tegas bahwa KPK bisa atau tidak mengantongi izin Presiden untuk memeriksa anggota DPR. Presiden juga bisa meminta pandangan pakar hukum terlebih dahulu untuk menguji argumen Setya Novanto.

    “Kalau ahli hukum mengatakan (argumen Novanto) tidak tepat, ya Presiden mengatakan ‘tidak perlu izin. Oleh karena itu, jangan jadikan saya sebagai bemper’ sehingga tidak kemudian dimanfaatkan,” ucap Adnan.

    Adnan menilai, Wapres Jusuf Kalla justru mengeluarkan pernyataan yang lebih tegas mengenai manuver Novanto ini. Kalla sejak awal menegaskan bahwa KPK tidak perlu mengantongi izin presiden untuk memeriksa anggota DPR.

    “Jauh-jauh hari Pak JK bilang tidak harus ada izin dari Presiden dan alasannya saya kira sudah tepat,” kata Adnan.

    Adnan pun menilai, sikap Presiden yang tidak tegas ini karena pertimbangan faktor politik, yakni terkait posisi Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Partai Golkar adalah bagian dari koalisi pemerintah saat ini dan sudah menyatakan dukungan ke Jokowi untuk pemilu 2019.

    Jokowi sebelumnya merespons alasan Novanto yang menolak memenuhi panggilan pemeriksaan di KPK karena tak ada izin Presiden. Jokowi menyerahkan segala proses hukum tersebut kepada tata acara yang berlaku.

    “Buka undang-undangnya semua. Buka undang-undangnya. Aturan mainnya seperti apa, disitulah diikuti,” ujar Jokowi sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi Istana, Rabu (15/11/2017).

    Pasal 245 Ayat 1 Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) yang sudah diuji materi Mahkamah Konstitusi memang mensyaratkan pemeriksaan anggota DPR harus seizin presiden.

    Namun, Pasal 245 Ayat 3 menyatakan bahwa ketentuan Ayat 1 tidak berlaku apabila anggota DPR melakukan tindak pidana khusus, termasuk korupsi.

    Pakar hukum tata negara Mahfud MD mengatakan, berdasarkan aturan tersebut, artinya penyidik KPK tidak perlu meminta izin Presiden terlebih dahulu jika ingin memeriksa Novanto.( Tribunnews.com) 

  • in

    Ngamuk 'Diskakmat' Akbar Faizal di ILC, Jonru Ngamuk dan

    Pegiat media sosial, Jon Riah Ukur Ginting atau yang karib disapa Jonru, ngamuk dalam acara Indonesia Lawyer’s Club.

    Peristiwa tersebut berawal saat Anggota Komisi III DPR-RI Akbar Faisal bertanya terkait unggahan Jonru tentang Presiden Joko Widodo.

    Postingan Jonru di akun jejaring sosial Facebook-nya dibacakan Faisal di depan para peserta diskusi.

    “Jokowi merupakan Presiden yang belum jelas siapa orangtuanya. Sungguh aneh, untuk jabatan sepenting presiden, begitu banyak orang yang percaya kepada orang yang asal muasalnya serba belum jelas,” ujar Faizal membacakan postingan yang tertera di ponsel miliknya.

    Setelah membacakan postingan tersebut, Akbar pun mulai bertanya ke Jonru.

    “Saya mau bertanya. Apakah betul Anda pernah memposting ini?” ujar Akbar dalam acara yang ditayangkan pada Selasa (29/8/2017).

    Lalu pertanyaan itu dijawab oleh Jonru.

    “Iya benar pak,” ujar Jonru yang malam itu mengenakan kemeja berwarna hitam.

    Akbar menilai jawaban Jonru merupakan pengakuan dan memberikan kode kepada Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul yang hadir dalam diskusi itu.

    “Monggo silakan pak polisi, ini adalah pengakuan,” ujar Akbar.

    Dia pun mengatakan bahwa tahu dengan jelas siapa ibunda Jokowi.

    “Saya sedih karena kebetulan saya bagian dari tim inti Pak Jokowi pada saat itu dan ikut merancang pemerintahan ini. Saya tahu betul siapa ibunya Pak Jokowi. Saya mencoba untuk tidak marah. Saya tidak bayangkan bagaimana rasanya bila ibu saudara Jonruatau Pak Jokowi dihina seperti ini,” ujar Akbar Faizal menahan amarah.

    Namun Jonru membantah menghina dalam postingannya tersebut.

    Dengan geragapan, Jonru mengelak dengan mengatakan postingan bukan ‘hate speech.’

    “Saya mengakui menulis (postingan) itu, tapi saya tidak menghina,” ujar Jonru.

    Dia tetap bersikukuh postingannya yang mengatakan asal muasal orangtua Jokowi tidak jelas bukanlah sebagai bentuk penghinaan.

    Akbar pun meminta kepada polisi untuk memproses hukum Jonru.

    “Saya minta kepada pak polisi, disaksikan seluruh orang Indonesia, tolong diproses manusia ini,” ujar Akbar sambil menunjuk Jonru.

    Kemudian, Jonru berteriak lantang.

    “Saya tidak takut. Silakan diproses,” ujar Jonru sambil mengacungkan tangan kirinya ke atas.