• in

    Pria Ini Tampar Keras Suami-suami yang Memposisikan Istrinya seperti Pembantu, Curhatannya Viral!

    Media sosial tengah diramaikan dengan curahan hati seorang pengguna akun Facebook bernama Arif Rahutomo.

    Melalui akun Facebook-nya tersebut, ia mengisahkan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukan oleh sang istri pada Selasa (14/11/2017).

    Dalam penjabarannya tersebut, menurutnya lumrah bila seorang suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh sang istri.

    Istri bukan pembatu via:http://ayo-bagikan.blogspot.com

    Terlebih saat istri sedang capek atau malas dan semua pekerjaan rumah menjadi terbengkalai.

    Menurutnya, sudah menjadi tugas suami untuk membantu istri meringankan pekerjaan rumahnya.

    Meski tidak bisa melakukan sebaik yang dikerjakan istri, masih banyak jasa-jasa di luar sana yang akan membantu.

    Seperti menggunakan jasa laundry, membeli makanan di warung apabila istri sedang malas masak.

    Karena menurutnya, istri bukanlah pembantu.

    Terlebih lagi, saat suami malas, mengapa harus menuntut istri yang juga memiliki batas kekuatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sehari-haro.

    Akun Facebook Arif Rahutomo pun mempertanyakan suami-suami yang masih memperlakukan istrinya seperti pembantu.

    Baginya, pria yang masih seperti itu adalah pria kuno.

    seperti ini statusnya

    “Kalau istri saya lagi capek atau lagi males, saya tidak menuntut apa-apa.

    Piring berantakan, cucian berantakan, rumah amburadul, kami biarkan saja.

    Kami cuman tidur-tiduran, atau dolan-dolan, atau masing-masing sibuk dengan kerjaan di laptop.

    Lagi males masak? Ya beli aja di warung atau order gofood.

    Kalau piring sih, saya yang mencuci, setrikaan, serahin aja ke jasa laundry.

    Wah, tidak rapi donk? Biarin ah suka-suka.

    Kok bisa? Bagi saya, istri bukan pembantu.

    Kalau saya sendiri males, ngapain nuntut orang lain rajin beberes rumah?
    Kamu masih memposisikan istrimu kayak pembantu? Kamu pria kuno
    *nggleweh_awan” tulis akun Facebook Arif Rahutomo.

    Sontak saja kisahnya ini langsung mendapatkan tanggapan yang beragam dari para netizen.

    Galih Dissidents: “Saya juga seperti itu masalah pekerjaan rumah kalau mau ya dikerjakan kalau gak mau ya tinggal nyuruh orang.”

    Gob Leen: “Ga semua orang mau menghargai istrinya seperti yang bikin status ini, apalagi kalo istri tsb bukan hasil pilihannya sendiri…#ehhh”

    Hawa Putri: “Seandainya saja semua suami berfikir kyk njenengan….jasa londry…tukang sayur pasti akan senang”

    Berdasarkan pantauan tim TribunWow.com hingga kini, Rabu (15/11/2017) pukul 15.35 WIB, unggahan ini sudah dibagikan lebih dari 4 ribu kali dan dikomentari sebanyak 300 lebih netizen (tribun)

  • in

    5 Fakta Menarik Jemput Paksa Setya Novanto: Mulai Fahri Hamzah Sebut Gila Sampai Beda Jokowi-JK

    Drama jemput paksa Ketua DPR Setya Novanto sampai 5 jam di kediamannya pada Rabu (15/11/2017) malam hingga Kamis dini hari benar-benar menyedot perhatian masyarakat.

    Sederet TV swasta menayangkan langsung drama penjemputan.

    Jajaran petinggi KPK bersiaga penuh di markasnya.

    Di Twitter heboh ribuan orang terus memantau perkembangan detik demi detik hasil penjemputan paksa sang Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

    Berikut TribunStyle.com himpun 5 fakta paling menarik drama penjemputan Setnov yang dihimpun dari berbagai sumber:

    Belum Berhasil Tangkap Setnov, Tapi Bisa Amankan Dokumen Penting

    Hingga drama 5 jam penjemputan Setya Novanto, yang bersangkutan tiada di rumah.

    Tapi dokumen-dokumen penting berhasil disita KPK.

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) akhirnya keluar dari rumah Ketua DPR Setya Novanto sekitar pukul 02.43 WIB.

    Mereka keluar setelah lima jam berada di kediaman Novanto di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Kesepuluh penyidik keluar dengan membawa tiga tas jinjing, satu koper biru, satu koper hitam, dan satu alat elektronik yang belum diketahui fungsinya.

    Saat ditanya mengenai aktivitas di dalam, mereka semua enggan menjawab dan terus berjalan menuju mobil masing-masing. Mereka pun enggan menanggapi saat ditanya wartawan ihwal barang yang dibawa di dalam tas dan koper.

    Mereka meninggalkan kediaman Novanto dengan menggunakan sepuluh mobil Toyota Innova.

    Rabu malam (15/11/2017), KPK menyambangi rumah Ketua DPR Setya Novanto, mereka tiba di kediaman Novanto pukul 21.40 WIB.

    Petugas polisi tampak berjaga-jaga di depan pintu masuk rumah Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Seharusnya hari ini, Rabu (15/11), Novanto diperiksa di KPK namun tidak datang. Dia memilih berada di gedung DPR untuk mengikuti rapat Paripurna.

    Seperti diketahui, KPK menetapkan kembali Novanto sebagai tersangka pada Jumat (10/11/2017).

    Novanto sebelumnya lolos dari status tersangka dalam penetapan sebelumnya setelah memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

    Dalam kasus ini, Novanto bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

    Adapun sejumlah pihak itu antara lain Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, dan dua mantan Pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto.

    Novanto juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Akibat perbuatannya bersama sejumlah pihak tersebut negara diduga dirugikan Rp 2,3 triliun pada proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

    Awalnya Tidak Dibolehkan Masuk Setnov 

    Petugas KPK memasuki kediaman Ketua DPR Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (16/11/2017). Sejumlah penyidik KPK mendatangi kediaman Setya Novanto setelah dirinya mangkir dari pemeriksaan sebagai tersangka kasus KTP Elektronik.  (Tribunnews.com/ Irwan Rismawan)
    Petugas KPK memasuki kediaman Ketua DPR Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (16/11/2017). Sejumlah penyidik KPK mendatangi kediaman Setya Novanto setelah dirinya mangkir dari pemeriksaan sebagai tersangka kasus KTP Elektronik. (Tribunnews.com/ Irwan Rismawan) ()

    Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) akhirnya mendatangi kediaman Ketua DPR Setya Novanto, di Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2017) malam.

    Mereka tiba pukul 21.40 WIB. Ketika tiba di kediaman Novanto, para penyidik KPK tak langsung diizinkan masuk.

    Para penyidik KPK menunggu di depan kediaman Novanto untuk menunggu Novanto maupun kuasa hukumnya.

    Pukul 21.55 WIB, kuasa hukum Novanto, Fredrich Yunadi, keluar dari rumah kliennya dan menuju mobilnya.

    Ia terlihat mengambil dokumen, kemudian masuk kembali ke rumah Novanto. Namun, Fredrich enggan menjawab saat ditanya dokumen apa yang dibawanya.

    Pada hari ini, KPK melakukan pemanggilan pertama Novanto sebagai tersangka kasus e-KTP.

    Namun, yang bersangkutan tak dapat memenuhi panggilan KPK dengan sejumlah alasan, salah satunya tengah mengajukan uji materi UU KPK.

    Sebelumnya, Novanto telah tiga kali mangkir dari pemanggilan KPK sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo.

    Sejauh ini, belum ada keterangan dari KPK soal tujuan kedatangan penyidiknya ke kediaman Ketua Umum Partai Golkar itu.

    Trending Tagar “TangkapNovanto” di Twitter

    Poster Setya Novanto
    Poster Setya Novanto ()

    Tanda pagar atau tagar “TangkapNovanto” menjadi trending topic pada media sosial Twitter, Kamis (15/11/2017) malam.

    Hingga Pukul 23.42 WIB, tagar tersebut masih berada pada posisi teratas.

    Hal ini menyusul sejumlah Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang pada Kamis malam mendatangi kediaman Setya Novantodi Jalan Wijaya XIII.

    Adapun Ketua DPR RI itu saat ini berstatus tersangka pada kasus korupsi proyek e-KTP.

    Beberapa warganet meminta agar KPK bisa segera menangkap Novanto.

    “Semoga #TangkapNovanto benar-benar terjadi dan kemudian segera tercipta proses hukum yang seadil-adilnya. Jika benar, ini satu pertanda bahwa KPK BERANI MEWUJUDKAN KEADILAN!” tulis pemilik akun @jolayjali.

    “Papa dimana kau berada? Ku harap menyerahlah!!” tulis pemilik akun @zidnyfahmy_90.

    Warganet lainnya mengungkapkan antusiasmenya menyaksikan siaran langsung peristiwa tersebut di televisi atau lewat media lainnya.

    “Tadinya mau tidur eh baca berita SN dijemput paksa setelah beberapa kali mangkir, jadi melek deh depan TV,” kata pemilik akun @salendra18.

    Seperti diberitakan, penyidik KPK mendatangi kediaman Novanto di kawasan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Pada hari Rabu, KPK melakukan pemanggilan pertama Novanto sebagai tersangka kasus e-KTP.

    Namun, yang bersangkutan tak dapat memenuhi panggilan KPK dengan sejumlah alasan, salah satunya tengah mengajukan uji materi UU KPK.

    Sebelumnya, Novanto telah tiga kali mangkir dari pemanggilan KPK sebagai saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo.

    Komisi Pemberantasan Korupsi pun mengimbau Ketua DPR RI Setya Novanto untuk menyerahkan diri.

    “Secara persuasif kami himbau SN dapat menyerahkan diri,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, saat dikonfirmasi, Rabu (15/11/2017).

    Rabu Malam tim KPK mendatangi kediaman Novanto di jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

    Febri mengatakan, tim mendatangi kediaman Novanto karena yang bersangkutan beberapa kali tidak menghadiri pemeriksaan KPK.

    “KPK mendatangi rumah SN karena sejumlah panggilan sudah dilakukan sebelumnya namun yang bersangkutan tidak menghadiri,” ujar Febri.

    Ketua Umum Partai Golkar itu kembali mengutarakan berbagai alasan ketidakhadiran di KPK melalui surat.

    Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, penyidik kali ini menerima surat keterangan ketidakhadiran yang dikirimkan pengacara Setya Novanto.

    “Surat dari pengacara,” ujar Febri saat dikonfirmasi.

    Dalam surat tersebut, pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, mengatakan, ketidakhadiran kliennya lantaran pihaknya sedang mengajukan uji materi di Mahkamah Konstitusi terhadap Undang-Undang KPK.

    Novanto sebelumnya juga tak menghadiri panggilan pemeriksaan sebagai saksi di Gedung KPK.

    Namun, sebelumnya ‘surat sakti’ ketidakhadiran dibuat melalui Sekretariat Jenderal DPR.

    Dalam surat yang menjadi senjata Novanto menghindari penyidikKPK, dia beralasan bahwa KPK harus mengantongi izin dari Presiden Joko Widodo untuk dapat memeriksa dirinya.

    Alasan serupa juga digunakan Novanto pada pemanggilan sebelumnya.

    Novanto dalam suratnya ke KPK menggunakan aturan mengenai Pasal 20A Huruf (3) UUD 1945 sebagai alasan mangkir.

    Pasal itu mengatur hak imunitas anggota DPR.

    Selain itu, Novanto juga beralasan dengan menggunakan Pasal 80 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 mengenai Hak Anggota Dewan Huruf (h) terkait imunitas. Pasal itu dijadikan alasan mangkir dari panggilan.

    Pada September 2017, Novanto juga dipanggil menjalani pemeriksaan sebagai tersangka di Gedung KPK.

    Namun, pada pagi hari, istri Novanto mengirimkan surat berisi keterangan bahwa Ketua Umum Partai Golkar itu sedang sakit dan tidak dapat menghadiri panggilan penyidik KPK.

    Pada hari yang sama dengan jadwal pemeriksaan, Novanto menjalani perawatan di rumah sakit.

    Ia bahkan menjalani operasi di Rumah Sakit Premier Jatinegara.

    Novanto sebelumnya lolos dari status tersangka dalam penetapan sebelumnya, setelah memenangi gugatan praperadilan terhadap KPK.

    Dalam kasus ini, Novanto bersama sejumlah pihak diduga menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi.

    Adapun sejumlah pihak itu antara lain Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, dua mantan Pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto.

    Novanto juga diduga menyalahgunakan kewenangan dan jabatan saat menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar.

    Diduga akibat perbuatannya bersama sejumlah pihak tersebut, negara dirugikan Rp 2,3 triliun pada proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

    Pasal yang disangkakan terhadap Novanto yakni Pasal 2 ayat 1 Subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

    Fahri Hamzah Tak Percaya Jemput Paksa dan Sebut Gila 

    Fahri Hamzah
    Fahri Hamzah ()

    Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah terkejut dengan langkah Komisi Pemberantasan Korupsi yang diduga berupaya menjemput paksa Ketua DPR Setya Novanto.

    “Kalau ada yang berani jemput paksa Setya Novanto, itu pasti perintah datang dari orang kuat di negara ini, sehingga aparat kepolisian khususnya, mau saja ikut-ikutan merusak lembaga negara,” kata Fahri, Rabu (15/11/2017).

    Fahri mengaku sudah mendengar rumor terkait upaya penjemputan paksa Setya Novanto yang dilakukan malam ini. Namun, ia sempat tidak percaya dengan rumor tersebut.

    “Saya tidak percaya bahwa kita semua sudah gila,” kata Fahri.

    Menurut Fahri, keterlibatan KPK dalam gerakan politik menarget Setya novanto akan menghancurkan seluruh bangunan negara hukum di Indonesia.

    “Presiden Jokowi harus bertanggung jawab apabila hal itu terjadi,” kata dia.

    Setya Novanto sebelumnya sudah 3 kali mangkir dari panggilan KPK sebagai saksi kasus E-KTP. Lalu pada Rabu hari ini, Novanto yang diperiksa sebagai tersangka juga mangkir.

    Akhirnya pada Rabu malam ini, sejumlah penyidik KPK mendatangi rumah Ketua DPR itu.

    Selain itu, berdasarkan pantauan Kompas.com, sejumlah petugas kepolisian juga terlihat berjaga. Bahkan, ada aparat kepolisian yang membawa senapan laras panjang yang berjaga.

    Lebih Tegas JK DIbanding Jokowi Terkait Setnov

    Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla  (Tribunnews.com/ Dany Permana)
    Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla (Tribunnews.com/ Dany Permana) ()

    Aktivis Indonesia Corruption Watch Adnan Topan Husodo menilai Presiden Joko Widodo belum menunjukkan ketegasan dalam agenda pemberantasan korupsi, khususnya terkait kasus korupsi e-KTP yang menjerat Ketua DPR Setya Novanto. Bahkan ketegasan Jokowi dinilai kalah dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

    “Yang sebenarnya lebih tegas itu kan Pak JK dalam kasus (Setya Novanto) ini,” kata Adnan di Jakarta, Rabu (15/11/2017).

    Adnan mengatakan, sejak awal Novanto sudah jelas-jelas menjadikan Jokowi sebagai tameng dalam menghadapi kasus E-KTP ini. Misalnya, Novanto menolak diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi sebelum lembaga antirasuah itu mengantongi izin Presiden.

    Namun, Adnan menyesalkan pernyataan Jokowi yang tidak tegas menyikapi manuver Novanto ini.

    Jokowi justru hanya menyerahkan segala proses hukum tersebut kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Harusnya, lanjut Adnan, Jokowi bisa menyatakan dengan tegas bahwa KPK bisa atau tidak mengantongi izin Presiden untuk memeriksa anggota DPR. Presiden juga bisa meminta pandangan pakar hukum terlebih dahulu untuk menguji argumen Setya Novanto.

    “Kalau ahli hukum mengatakan (argumen Novanto) tidak tepat, ya Presiden mengatakan ‘tidak perlu izin. Oleh karena itu, jangan jadikan saya sebagai bemper’ sehingga tidak kemudian dimanfaatkan,” ucap Adnan.

    Adnan menilai, Wapres Jusuf Kalla justru mengeluarkan pernyataan yang lebih tegas mengenai manuver Novanto ini. Kalla sejak awal menegaskan bahwa KPK tidak perlu mengantongi izin presiden untuk memeriksa anggota DPR.

    “Jauh-jauh hari Pak JK bilang tidak harus ada izin dari Presiden dan alasannya saya kira sudah tepat,” kata Adnan.

    Adnan pun menilai, sikap Presiden yang tidak tegas ini karena pertimbangan faktor politik, yakni terkait posisi Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Partai Golkar adalah bagian dari koalisi pemerintah saat ini dan sudah menyatakan dukungan ke Jokowi untuk pemilu 2019.

    Jokowi sebelumnya merespons alasan Novanto yang menolak memenuhi panggilan pemeriksaan di KPK karena tak ada izin Presiden. Jokowi menyerahkan segala proses hukum tersebut kepada tata acara yang berlaku.

    “Buka undang-undangnya semua. Buka undang-undangnya. Aturan mainnya seperti apa, disitulah diikuti,” ujar Jokowi sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi Istana, Rabu (15/11/2017).

    Pasal 245 Ayat 1 Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) yang sudah diuji materi Mahkamah Konstitusi memang mensyaratkan pemeriksaan anggota DPR harus seizin presiden.

    Namun, Pasal 245 Ayat 3 menyatakan bahwa ketentuan Ayat 1 tidak berlaku apabila anggota DPR melakukan tindak pidana khusus, termasuk korupsi.

    Pakar hukum tata negara Mahfud MD mengatakan, berdasarkan aturan tersebut, artinya penyidik KPK tidak perlu meminta izin Presiden terlebih dahulu jika ingin memeriksa Novanto.( Tribunnews.com) 

  • in

    Pengakuan Pemuda Simpanan Tante-tante: ‘Saya Cuma Jadi Mesin Pemuas Syahwat’

    Seperti dikutip Breitbart, Selasa (8/8/2017), pengungsi laki-laki muda saat ini menjadi sasaran perempuan kaya tua di Austria untuk memenuhi kebutuhan hasrat seksual mereka.

    Sebagai gantinya, wanita-wanita ini akan mengurus kebutuhan sehari-hari mereka dan memberi mereka uang.

    Seorang pengungsi berusia 24 tahun, Hassan, yang melarikan diri dari Irak ke Austria mengatakan bahwa seorang wanita berusia 50-an, sebut saja namanya Linda, mendekati dia di sebuah bar.

    Mereka berhasil menemukannya di sana sebelum Linda mengundangnya kembali ke rumahnya, tempat mereka berhubungan seksual.

    Keduanya mulai berkencan setelah itu dan Linda bahkan memintanya untuk pindah, seperti dikutip dari Oriental Daily.

    Hassan mengungkapkan, Linda membayar semuanya termasuk keanggotaan gym bulanan seharga 120 euro atau setara dengan Rp1,9 juta di sebuah gym mewah di Wina.

    Hidup terlihat mewah untuknya.

    Satu-satunya keluhan yang Hassan miliki adalah bahwa Linda menginginkan terlalu banyak seks.

    Sebenarnya, dia berkata, “Dia ingin berhubungan seks dengan saya empat kali sehari, saya hanya mesin seks untuknya, tidak lebih.”

    Terlepas dari permintaan seksual Linda yang luar biasa, Hassan mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkannya karena dia bergantung pada dirinya secara finansial.

    Rupanya sebelum para pengungsi tiba di Austria, wanita setempat akan pergi ke negara-negara Afrika untuk berhubungan seks dengan pria di sana.

    Mereka menyebutnya “liburan seks”.

    Kini setelah para pengungsi itu tersedia di Austria, para wanita telah mengeksploitasi mereka untuk memenuhi kepuasan seksual mereka.

  • in

    Isu Tidak Boleh Masuk Saat Jokowi Mantu, Ini Jawaban Roro Fitria

    Di media sosial, beredar unggahan Roro Fitria sedang menangis yang diperkirakan terjadi saat dirinya menghadiri undangan Presiden Jokowi. Dari kabar yang berhembus, penyebabnya adalah dirinya yang salah membawa undangan.

    Saat ditemui langsung, Roro Fitria membantah hal tersebut. Roro mengaku bukan undangannya yang salah, melainkan ada syarat yang tertinggal.

    “Tidak benar, itu berita yang simpang siur, terimakasih sudah mengkroscek langsung pada yang bersangkutan, dalam hal ini saya. Nah mengenai alur mobilitas para tamu undangan itu kan memang membludak luar biasa, kita harus antri lama, itu satu. Dan yang kedua, fotografer saya tidak membawa name tag, undangan resmi Midodareni di dalamnya itu selain surat undangan isinya, ada name tag peserta Midodareni,” kata Roro Fitria di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2017).

    “Saya sudah membawa kelengkapannya benar, tapi masalah teknis untuk tim fotografer saya tidak membawa, jadi alhasil kita kembali lagi ke hotel untuk mengambil name tag yang tertinggal, dan kemudian sudah diperbolehkan untuk masuk,” lanjutnya lagi.

    Video menangis

    Soal video yang memperlihatkan dirinya sedang menangis, ia mengatakan bahwa masalah tersebut tidak hubungannya dengan pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution. Ia menangis karena mendengar kabar sang ibu yang kembali sakit.

    “Jadi yang sebenarnya adalah saya menangis itu karena saya mendapatkan kabar bunda itu sakit lagi. Ibu itu amat sangat menginfluence hati saya. Itu yang terjadi makanya saya pada saat itu langsung telepon ke bunda,” sanggah Roro Fitria.

  • in

    Setelah Kematian Dokter Letty, Kakak Kandung Ungkap Kelakuan Pelaku Selama Ini, Parah Banget!

    Seorang dokter bernama Letty Sultri tewas ditembak di Klinik Az-zahra di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, Kamis (9/11/2017) sore.

    Korban tewas ditembak suaminya yang berinisial H karena permasalahan rumah tangga.

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.

    Saat itu, Letty sedang bersama dua karyawannya di ruang pendaftaran klinik dan tiba-tiba datang sang pelaku.

    Mengetahui kedatangan pelaku, Letty ke luar ruangan menghampirinya.

    Tak berapa lama, korban dan pelaku terlibat cekcok.

    “Kemudian korban langsung masuk ke dalam ruangan sambil meminta tolong, kemudian saksi Nabila menghampiri dan melihat pelaku membawa senjata api,” kata Argo.

    Kematian Dokter Letty membuat keluarga dan kerabat berang kepada Tersangka.

    Kami minta pelaku dihukum dengan setimpal sesuai perbuatannya, seberat-beratnya,” kata Afifi Bachtiar, kakak kandung Letty, saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (10/11/2017).

    Melansir dari Kompas.com, Afifi sang kakak korban, mengatakan bahwa adiknya kerap menceritakan tingkah laku H kepadanya.

    Menurut Afifi, Letty mengeluhkan sikap pemalas H.

    “Kalau dengan keluarga lain, H ini orangnya baik, ceria-ceria saja. Tetapi, kalau di rumah, H ini pemalas,” kata Afifi.

    Afifi juga mengatakan, H menunjukkan sikap pemalasnya setelah dua tahun menikah.

    Dia jarang keluar rumah meski merupakan dokter kecantikan.

    “Kerjaan hanya nonton TV, memberikan nafkah tidak, uang rokok minta ke adik saya,” kata Afifi.

    Sementara Letty, kata Afifi, adalah orang yang ramah dan penuh kasih sayang.

    “Korban sangat dekat dengan keponakan sampai-sampai keponakannya datang semua ke sini,” ujarnya.

    Hingga saat ini, H masih menjalani pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya.

    (TribunStyle.com/ Burhanudin Ghafar Rahman)

  • in

    Warga Tangkap Buaya Raksasa Saat Perutnya dibelah Ternyata ini Isinya

    Seekor buaya sepanjang 5 meter ditangkap dan dibunuh oleh SWAT di Sarawak, Malaysia.

    Ketika mereka membelah perut buaya itu, semua terkejut ketika menemukan sesuatu yang tak biasa.

    Sekor buaya yang diyakini telah memakan Bentayan Ilah, 31, dari Kampung Hulu Tambak, Pusa, dibunuh oleh Wildlife Action Force (SWAT), Sarawak Forestry Corporation (SFC) beberap waktu yang lalu.

    Juru bicara SFC mengatakan buaya tersebut ditangkap dengan menggunakan sistem isolasi.

    Dengan memasang umpan ayam di sepanjang Sungai Rimbas sepanjang lima kilometer.

    Di dekat lokasi korban yang dilaporkan hilang.

    Menurutnya, buaya sepanjang 4,8 meter itu akhirnya terjebak.

    Setelah mengonsumsi satu dari 13 kait umpan ayam yang dipasang di sepanjang sungai.

    Dilansir kisahbaru, saat dinaikkan ke darat, perut buaya itu dibedah di depan polisi.

    Keluarga dan penduduk desa menemukan bagian tubuh manusia di dalamnya.

    Anggota tubuh manusia yang ditemukan di perut buaya diserahkan ke polisi.

    Untuk analisis asam deoksiribonukleat (DNA).

    Dalam insiden 24 September lalu itu, Bentayan dengan sepupunya yang berusia 31 tahun menangkap ikan di sungai.

    Sebelum disambar seekor buaya, pukul 15.30.

    Korban menjerit meminta bantuan sebelum menghilang dari pandangan.

    Keesokan harinya, tim pencari dan penyelamat (SAR) menemukan potongan usus di area pencarian.

    Dipercaya itu milik korban, sementara potongan kaki, tangan kanan dan kepala korban ditemukan pada tanggal 27 September.